Focus Group Discussion (FGD) II bertajuk "Yukti-Jnana Yatra" (Perjalanan Kedalaman Pengetahuan) dalam rangka penyusunan kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali
BADAN RISET DAN INOVASI DAERAH PROVINSI BALI - Bidang Prioritas Pembangunan Daerah BRIDA Provinsi Bali melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) II bertajuk "Yukti-Jnana Yatra" (Perjalanan Kedalaman Pengetahuan) dalam rangka penyusunan kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Rabu (16/9/2026). Acara dihadiri oleh Sekretaris BRIDA Provinsi Bali sekaligus membuka acara, dengan didampingi Kepala Bidang 1, Kepala Bidang 3, Tim Pengendali Mutu pada BRIDA Provinsi Bali dalam hal ini di wakili oleh Ir. I MadeGunaja, M.Si, dan Ketua Tim Kerja Pariwisata dan staf pada Bidang Prioritas Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Bali.
Â
Dalam presentasi Laporan Pertengahan Kegiatan Penelitian/kajian melalui Focus Group Discussion (FGD) II bertajuk "Yukti-Jnana Yatra" (Perjalanan Kedalaman Pengetahuan) dalam rangka penyusunan kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali, Rektor ISI Bali, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn, menyampaikan bahwa pentingnya refleksi historis atas perjalanan satu abad pariwisataBali sejak era perintisan kolonial (1927) hingga kini. Hal ini bertujuan untuk meninjau kembali bagaimana kebudayaan diposisikan sebagai fondasi utama pariwisata yang berkelanjutan. Beliau juga menyoroti pentingnya forum terpumpun (FGD) yang mempertemukan akademisi ISI Bali, BRIDA Provinsi Bali, sertapara narasumber lintas disiplin (seperti tokoh permuseuman, asosiasi pariwisata PHRI, danpengelola kawasan wisata) untuk merumuskan arah kebijakan pariwisata masa depan yang bermartabat. Rektor ISI Bali mengarahkan agar hasil kajian ini mampu melahirkan rekomendasi ilmiah yang memastikan pariwisata Bali tetap berakar pada nilai-nilai kearifan lokal, adat istiadat, serta filosofi Tri Hita Karana, di tengah guncangan arus globalisasi dan dinamika pariwisata modern.
Â
Â

  Adapun hasil yang diharapkan dari rangkaian kajian dan FGD ini meliputi:
- Penyusunan Basis Data dan Narasi Ilmiah (Kajian Komprehensif): Dihasilkannya naskah akademik yang mendokumentasikan secara sosiosejarah perjalanan 100 tahun kepariwisataan budaya Bali—mulai dari era perintisan kolonial (1927), masa kebangkitan, hingga era modern saat ini sebagai acuan perencanaan ke depan.
- Identifikasi Tonggak Sejarah dan Resiliensi Budaya: Teridentifikasinya tonggak-tonggak penting perkembangan pariwisata internasional di Bali serta bentuk-bentuk ketahanan internal (resiliensi budaya) yang dimiliki oleh masyarakat lokal, struktur adat (seperti Desa Adat danSubak), serta puri dalam menyaring pengaruh eksternal dan globalisasi.
- Perumusan Rekomendasi Kebijakan Strategis: Menghasilkan masukan, pandangan kritis, danperspektif lintas disiplin dari para narasumber (tokoh permuseuman, asosiasi pariwisata seperti PHRI, praktisi, dan akademisi) untuk memperkuat kebijakan tata kelola pariwisata yang berkualitas, bermartabat, dan berbasis budaya (cultural tourism).
- Menjaga Keseimbangan antara Ekonomi dan Pelestarian: Merumuskan strategi agar industri pariwisata tidak merusak tata ruang dan nilai sakral, melainkan berjalan selaras dengan filosofi Tri Hita Karana sehingga memastikan pariwisata memberikan kesejahteraan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan identitas budaya Bali.
Â
PariwisataBali telah melalui perjalanan sejarah yang anjang sejak tonggak perintisan awalnya pada tahun 1927, bertransformasi dari sebuah destinasi eksotis era kolonial menjadi salah satu pusat pariwisata budaya terkemuka di dunia. Keberhasilan dan daya tarik utama Pulau Dewata senantiasa bertumpu pada keharmonisan nilai-nilai kearifan lokal serta filosofi Tri Hita Karana, di mana kebudayaan tidak hanya diposisikan sebagai komoditas pariwisata semata, tetapi juga sebagai identitas hidup dan praktik sosial masyarakat sehari-hari. Dalam menghadapi berbagai guncangan krisis multidimensional, mulai dari instabilitas politik, terorisme global, hingga pandemi Covid-19, Bali terbukti memiliki daya tahan (resiliensi) yang kuat. Ketahanan ini bersumber darikekuatan struktur internal komunitas lokal seperti Desa Adat, Puri, sistem pengairan Subak, serta keterlibatan aktifmasyarakat melalui model pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism). Menghadapi tantangan modern seperti komersialisasiberlebihan dan overtourism, arah kebijakan kepariwisataan Bali saat ini telah direorientasikan secara tegas melalui instrumen regulasi daerah. Hal ini bertujuan untuk menjaga integritas  budaya  dan  kelestarian  lingkungan  demi  mewujudkan  ekosistem pariwisata Bali yang berkualitas, bermartabat, dan berkelanjutan di masa depan.
Â